Unit Bisnis RGE Fokus ke Pencegahan Dalam Penanganan Masalah Kebakaran

Kebakaran lahan dan hutan menjadi perhatian serius Royal Golden Eagle (RGE). Mereka memilih fokus dalam pencegahan dibanding proses pemadaman api. Pilihan itu rupanya berdampak positif dalam menekan tingkat kebakaran.

Royal Golden Eagle merupakan korporasi kelas internasional yang berkecimpung dalam bisnis pemanfaatan sumber daya. Berdiri pada 1973 dengan nama Raja Garuda Mas, asetnya kini sudah mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat dengan karyawan 60 ribu orang.

Unit Bisnis RGE Fokus ke Pencegahan Dalam Penanganan Masalah Kebakaran

Pendirinya adalah pengusaha Sukanto Tanoto. Sejak masih bernama Raja Garuda Mas hingga bertransformasi menjadi Royal Golden Eagle, ia gencar menginstruksikan agar perusahaannya selalu memerhatikan kelestarian alam.

Hal itu bahkan dirumuskan menjadi salah satu poin dalam filosofi bisnis RGE. Sukanto Tanoto mengharuskan agar Royal Golden Eagle ikut menjaga keseimbangan iklim. Aksi itu wajib dilakukan dalam operasional perusahaan sehari-hari.

Kebakaran hutan merupakan salah satu ancaman terbesar bagi keseimbangan iklim. Hal ini dihadapi secara nyata oleh RGE. Dengan anak perusahaan yang memiliki basis operasi di sekitar Riau, Sumatra Utara, dan Jambi, potensi kebakaran sering muncul.

Belajar dari pengalaman panjang, mereka mengubah paradigma penanganan kebakaran hutan. RGE memilih melakukan antisipasi supaya kejadian tidak terjadi.

Langkah ini dilakukan secara konkret oleh Grup APRIL. Sejak 2014, anak perusahaan Royal Golden Eagle yang berkecimpung dalam industri pulp dan kertas ini membuat beragam program pencegahan kebakaran.

“Kami harus mengubah konsep dari konservasi ke pencegahan,” tandas Direktur Royal Golden Eagle, Anderson Tanoto.

Pilihan itu terbukti efektif. Dari tahun ke tahun, tingkat kebakaran malah terus menurun. Sebagai contoh adalah melihat tingkat kebakaran di lahan konsesi APRIL selama 2017.

Menurut data dari tim manajemen dan perlindungan api strategis APRIL, sejak Juli hingga September 2017, luas lahan yang terbakar di kawasan tersebut menurun hingga 92 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Namun, keberhasilan yang diraih bukan hanya itu. Unit bisnis RGE tersebut menemukan bahwa rata-rata ukuran lahan yang terbakar semakin mengecil.

Sebagai contoh ditarik kondisi pada 2016, kawasan yang dilahap api rata-rata seluas 6,1 hektare. Namun, pada 2017, luasnya menurun hingga hanya 1,6 hektare belaka.

Penurunan tingkat kebakaran yang terjadi pada 2017 meneruskan tren positif yang terjadi. Sebelumnya pada 2016, situasi serupa dialami. Sejak upaya pencegahan kebakaran dicanangkan oleh APRIL, luas lahan dan hutan yang terbakar terus berkurang.

Buktinya bisa diambil dari laporan hasil riset independen yang dilakukan oleh Carbon Conservation. Mereka menemukan bahwa luas lahan yang terbakar di kawasan yang mengadopsi program tersebut terus menurun.

Pada 2014, Carbon Conservation mencatat kebakaran terjadi di area seluas 618 hektare. Luas itu menurun menjadi 53,6 hektare pada 2015. Sedangkan pada 2016, luas lahan yang terbakar kian menyusut menjadi 45,76 hektare di luar kawasan Pulau Muda dikesampingkan.

Jejak positif itu terus meningkat pada 2017. Hal itu pun sejalan dengan temuan Badan Nasional Penangggulangan Bencana. Mereka menengarai ada kesuksesan dalam upaya menekan tingkat kebakaran. Penurunan lahan yang terbakar pada 2017 mencapai 50 persen ketika dibandingkan dengan kondisi pada 2016. Ini berarti lahan yang terbakar semakin mengecil berkat program pencegahan kebakaran yang dijalankan.

TERUS FOKUS KE PENCEGAHAN KEBAKARAN

Keberhasilan yang digapai berkat program pencegahan kebakaran semakin menyemangati APRIL dalam menjalankannya. Tak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada 2018, anak perusahaan RGE ini berniat akan terus melaksanakan dengan konsisten.

Dalam upaya pencegahan kebakaran yang dilakukan, terdapat berbagai program yang dijalankan oleh APRIL. Pertama mereka mengajak masyarakat agar aktif berpartisipasi. Caranya ialah dengan menggagas Program Desa Bebas Api.

Di dalam program tersebut, warga diajak agar mau mengamankan wilayahnya dari ancaman api. Jika mampu melaksanakan dalam setahun, insentif sebesar Rp100 juta akan diberikan dalam bentuk pembangunan infrastruktur.
Gambaran sederhana ada pada 2017. Program Desa Bebas Api mencakup lahan seluas 750 ribu hektare di Riau. Cakupan itu didapat berkat partisipasi 18 desa dalam program tersebut.

Dari jumlah itu, sembilan desa di antaranya berasal dari area sekitar Pulau Padang. Selain itu, ada sembilan desa yang sudah mengikuti Program Desa Bebas Api selama dua tahun. Mereka sudah bisa membentuk Masyarakat Tangguh Api yang merupakan tanda kemampuan desa untuk mencegah maupun memadamkan kebakaran dengan baik.

Bersamaan dengan itu, selama 2017, APRIL juga berhasil memperkenalkan Program Desa Bebas Api kepada 50 desa lain. Lewat sejumlah kegiatan seperti pemutaran film, kunjungan ke sekolah, atau dialog dan seminar, mereka berhasil menanamkan kesadaran tentang bahaya kebakaran kepada warga desa.

Patut diketahui, upaya membuka mata terhadap bahaya api merupakan aspek penting lain dalam program pencegahan kebakaran. Namun, hal itu juga diimbangi dengan konsistensi memantau kondisi lahan dan hutan.

APRIL terus-menerus melakukan penjagaan terhadap lahan dan hutan di Riau supaya tidak terbakar. Anak perusahaan Royal Golden Eagle ini memanfaatkan penginderaan titik api melalui satelit.

Pada 2017, mereka tercatat menemukan 245 titik panas. Namun, dari jumlah itu, sesudah dicek secara langsung di lapangan, tidak ada kebakaran yang terjadi.

Bukan hanya itu, APRIL juga menyiagakan tim khusus untuk merespons kebakaran dengan cepat. Tidak kurang dari 600 orang dengan kemampuan profesional untuk memadamkan api rutin memantau 26 estate di Riau.

Mereka semua tergabung ke dalam Incident Command System (ICS) yang merupakan manajemen kebakaran lahan dan hutan terintegrasi. Di dalam ICS terdapat panduan dan prosedur tata cara penanganan kebakaran yang benar.

Selain itu, APRIL juga memperluas jangkauan programnya. Mereka ikut menggagas kehadiran Aliansi Bebas Api. Kegiatan ini mulai dilakukan pada Februari 2016.

Secara umum, Aliansi Bebas Api merupakan aksi sukarela para pemangku kepentingan yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri bidang kehutanan dan agribisnis, Lembaga Swadaya Masyarakat dan mitra terkait lainnya. Mereka berkolaborasi untuk berkontribusi dalam memberikan solusi masalah kebakaran dan kabut asap di Indonesia yang timbul akibat pembakaran lahan.

Dalam pelaksanaan, Aliansi Bebas Api mengadopsi Program Desa Bebas Api yang dijalankan oleh APRIL. “Program ini menunjukkan bagaimana sektor swasta bermitra dengan kelompok-kelompok masyarakat sipil dapat meningkatkan area bebas api melalui tindakan sukarela. Kolaborasi di bawah naungan Aliansi Bebas Api akan membantu memperluas keberhasilan strategi pencegahan kebakaran dengan area yang lebih luas,” kata Direktur APRIL untuk Sustainability & External Affairs Lucita Jasmin.

Beragam program ini akan terus dilaksanakan oleh Royal Golden Eagle. Mereka tetap akan memprioritaskan aksi pencegahan yang dirasa lebih efektif dalam mengelola permasalahan kebakaran lahan dan hutan.