Penjelajahan Alam Di Wisata Makam Linggaratu Garut

Minggu, 17 Juli 2011, jam 07.00 pagi kami semua telah berkumpul di markas untuk melakukan persiapan lintas alam. Wilayah yang akan kami jelajahi ialah Wisata Makam Linggaratu yang menjadi salah satu tempat Wisata Garut dan terletak di karangpawitan Garut. 11 anggota telah berkumpul untuk mengikuti acara yang telah kami beri nama “Eksplorasi”. Kami sudah memilih rute perjalanan untuk “Eksplorasi” kami dan kami akan memulai start dari kampung bongkor. Kami berangkat dengan menaiki angkot no 12 yang sudah kami sewa. jam 08.00 tepat kami mengawali “Eksplorasi” kami, rute jalan yang pertama harus kami lewati ialah jalan rondaan yang berlum diaspal. Disepanjang jalan terdapat pabrik produksi batu bata merah, itulah yang terlihat dari sudut kiri dan kanan jalan. Rute yang kami lalui cukup berdebu karena memang sedang musim kemarau panjang.

Jalan yang kami lalui belum terlalu extream hanya tanjakan-tanjakan biasa yang didampingi rumah-rumah penduduk yang diselingi kebun-kebun dan pabrik batu bata merah. Sungguh perjalanan yang cepat karena tidak terasa sudah 3 kampung yang telah kami lewati, mejelang kampung berikutnya jalan yang harus kami lewati kini berupa jalan setapak menanjak yang sebagian besar sudah ditembok. Meskipun begitu setelah sampai di akhir tanjakan kami ditakjubkan dengan pemandangan indah Kota Garut dan sekitarnya yang sungguh memberikan panorama terindah untuk dilihat. Akhirnya kami sampai dikampung yang terdapat diujung jalan ini, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak selama 15 menit. Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan, kami bertemu kembali jalan setapak yang menanjak, namun karena ini tanjakan yang kedua kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat kembali di kolam pemancingan yang ada di atas bukit. Tak jauh dari tempat kami beristirahat terdapat dua jalur, jalur pertama jalur yang berupa jalan rondaan dan jalur kedua jalan setapak yang menanjak namun dijalur kedua ini terdapat plang yang menunjukan jalur Linggaratu.

Perjalanan kami lanjutkan dengan mengambil jalur yang ditunjuk oleh plang. Setiap langkah kami lalui masih terasa indah karena masih banyak pohon-pohon, namun semakin kami melangkah jalur yang kami laluli mulai menanjak. Rasa letih mulai menyerang beberapa teman kami dan terpaksa harus berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga. Memang kali ini panas matahari sudah menyengat, ditambah dengan kondisi jalur sudah berupa tanah kering yang dipinggirnya terdapat alang-alang yang sudah dibakar. Jalan setapak yang terus menanjak tanpa peneduh terus mendampingi kami selama perjalanan. Namun setelah melewati jalur ini kami ucapkan syukur karena kami langsung bertemu pohon-pohon pinus yang rindang seakan menyambut kedatangan kami. Ditambah hebusan angin yang sepoi-sepoi membuat kami bisa melepaskan rasa letih yang terus menghantui kami selama perjalanan tadi. Selain itu terdapat juga pemandangan yang tak kalah spektakuler, dari bawah pohon ini kami bisa melihat hamparan situ bagendit yang luas dan sekitarnya.

Setelah kami rasa cukup untuk istirahat kami langsung melanjutkan perjalanan, jalur yang harus kami lewati masih jalan setapak yang berdebu juga menanjak. Namun karena kami sudah bertekad kami teruskan perjalanan walaupun terengah-engah. Akhirnya kami tiba diatas gunung dengan perasaan penuh riang kami mulai membuka perbekalan kami. Memang bekal yang kami bawa hanya alakadarnya, namun kebersamaan yang membuat makanan alakadarnya ini menjadi terasa sangat nikmat. Saat sedang beristirahat kami tak sengaja bertemu dengan beberapa pemuda yang berasal dari karangpawitan, mereka memberitahukan bahwa dibalik pagar bambu terdapat sebuah makam Prabu Kingking, makam itu sangat panjang hingga salah satu dari anggota kami tertarik untuk mengukur panjang makam tersebut.

Setelah sedikit melihat tentang makam tersebut kami langsung melanjutkan perjalanan untuk mencapai Linggaratu. Akhirnya setelah perjalanan yang panjang kami bertemu dengan batu-batu besar yang berdiri kokoh didepan kami. Sungguh pemandangan yang membuat mata ini mengagumi kekuasaan sang pencipta. Setelah kami berpuas-puasan menikmati indahnya pemandangan, kami mulai melangkah pulang. Perjalanan saat pulang ternyata tidak kalah seru dengan saat kami berangkat, kami harus menuruni jurang tetapi teduh. Jalan yang menurun membuat kami semakin berhati-hati, tak jarang kami harus bergaya sedang main prosotan. Karena jika kami berdiri takut terjatuh. Setelah melewati hutan, jalan rondaan yang berdebu akhirnya kami bertemu dengan plang yang menjadi akhir dari “Eksplorasi” kami.